Minggu, 16 Desember 2012

Cerita anak PUTRI MELATI WANGI


Di sebuah kerajaan, ada seorang putri yang bernama Melati Wangi. Ia seorang
putri yang cantik dan pandai. Di rumahnya ia selalu menyanyi. Tetapi
sayangnya ia seorang yang sombong dan suka menganggap rendah orang lain.
Di rumahnya ia tidak pernah mau jika disuruh menyapu oleh ibunya. Selain
itu ia juga tidak mau jika disuruh belajar memasak. "Tidak, aku tidak mau
menyapu dan memasak nanti tanganku kasar dan aku jadi kotor", kata Putri
Melati Wangi setiap kali disuruh menyapu dan belajar memasak.
Sejak kecil Putri Melati Wangi sudah dijodohkan dengan seorang pangeran
yang bernama Pangeran Tanduk Rusa. Pangeran Tanduk Rusa adalah seorang
pangeran yang tampan dan gagah. Ia selalu berburu rusa dan binatang lainnya
tiap satu bulan di hutan. Karena itu ia di panggil tanduk rusa.
Suatu hari, Putri Melati Wangi berjalan-jalan di taman. Ia melihat seekor
kupu-kupu yang cantik sekali warnanya. Ia ingin menangkap kupu-kupu itu
tetapi kupu-kupu itu segera terbang. Putri Melati Wangi terus mengejarnya
sampai ia tidak sadar sudah masuk ke hutan. Sesampainya di hutan, Melati
Wangi tersesat. Ia tidak tahu jalan pulang dan haripun sudah mulai gelap.
Akhirnya setelah terus berjalan, ia menemukan sebuah gubuk yang biasa
digunakan para pemburu untuk beristirahat. Akhirnya Melati Wangi tinggal
digubuk tersebut. Karena tidak ada makanan Putri Melati Wangi terpaksa
memakan buah-buahan yang ada di hutan itu. Bajunya yang semula bagus,
kini menjadi robek dan compang camping akibat tersangkut duri dan ranting
pohon. Kulitnya yang dulu putih dan mulus kini menjadi hitam dan tergoresgores
karena
terkena
sinar
matahari
dan
duri.


Setelah sebulan berada di hutan, ia melihat Pangeran Tanduk Rusa datang
sambil memanggul seekor rusa buruannya. "Hai Tanduk Rusa, aku Melati
Wangi, tolong antarkan aku pulang," kata Melati Wangi. "Siapa ? Melati Wangi
? Melati wangi seorang Putri yang cantik dan bersih, sedang engkau mirip
seorang pengemis", kata Pangeran Tanduk Rusa. Ia tidak mengenali lagi
Melati Wangi. Karena Melati Wangi terus memohon, akhirnya Pangeran
Tanduk Rusa berkata," Baiklah, aku akan membawamu ke Kerajaan ku".
Setelah sampai di Kerajaan Pangeran Tanduk Rusa. Melati Wangi di suruh
mencuci, menyapu dan memasak. Ia juga diberikan kamar yang kecil dan
agak gelap. "Mengapa nasibku menjadi begini ?", keluh Melati Wangi. Setelah
satu tahun berlalu, Putri Melati Wangi bertekad untuk pulang. Ia merasa uang
tabungan yang ia kumpulkan dari hasil kerjanya sudah
mencukupi.Sesampainya di rumahnya, Putri Melati Wangi disambut gembira
oleh keluarganya yang mengira Putri Melati Wangi sudah meninggal dunia.
Sejak itu Putri Melati Wangi menjadi seorang putri yang rajin. Ia merasa
mendapatkan pelajaran yang sangat berharga selama berada di hutan dan di
Kerajaan Pangeran Tanduk Rusa. Akhirnya setahun kemudian Putri Melati
Wangi dinikahkan dengan Pangeran Tanduk Rusa. Setelah menikah, Putri
Melati Wangi dan Pangeran Tanduk Rusa hidup berbahagia sampai hari
tuanya. TAMAT
TIGA SEKAWAN
Dahulu kala, hiduplah seekor Ibu Babi dengan 3 orang anaknya. Anak yang
sulung sangat malas dan mengabaikan pekerjaannya. Anak yang tengah
sangat rakus, tidak mau bekerja dan kerjanya hanya makan. Anak bungsunya
tidak seperti kakaknya, ia anak yang rajin bekerja. Suatu saat Ibu Babi
berkata kepada anak-anaknya,"Karena kalian sudah dewasa, kalian harus
hidup mandiri dan buatlah rumah masing-masing". Si bungsu berpikir rumah
seperti apa yang akan didirikannya.
Si sulung tanpa mau bersusah payah membuat rumahnya dari jerami. Si
bungsu berkata,"Kalau rumah jerami nanti akan hancur bila ada angin atau
hujan". "Oh iya ya ! Kalau begitu aku akan membuat rumah dari kayu saja,
supaya kuat jika ada angin", kata si tengah. Setelah selesai si bungsu kembali
berkata,"kalau rumah kayu walau tahan angin tetapi akan hancur jika
dipukul". Si kakak menjadi marah, "Kau sendiri lambat membuat rumah dari
batu batamu itu, jika hari telah sore serigala akan datang."
Si bungsu bertekad akan membuat rumah dari batu-bata yang kuat yang tidak
goyah dengan angin atau serangan serigala. Malampun tiba, pada saat bulan
purnama, si bungsu telah selesai. Esok harinya, si bungsu mengundang kedua
kakaknya, lalu mereka pergi ke rumah ibu Babi. "Hebat anak-anakku, mulai
sekarang kalian hidup dengan mengolah ladang sendiri", ujar Ibu Babi. Kedua
kakak si bungsu menggerutu. "Tidak ah, cape……," gerutu mereka. Menjelang
senja telah tiba, mereka pamit kepada Ibu mereka. Dalam perjalanan, tibatiba
sekeor
serigala
membuntuti
mereka.
"Aku
akan
memakan
babi
malas

yang
tinggal
di
rumah
jerami
itu",
kata
serigala.
Ketika
sampai
di
depan
pintu

si
sulung
ia
langsung
menendang
pintu.
"Buka
pintu!"
teriaknya.
Si
sulung

terkejut
dan
cepat-cepat
mengunci
pintu.
Tetapi
serigala
lebih
cerdik.
Ia

langsung
meniup
rumah
jerami
itu
sehingga
menjadi
hancur.


Si sulung lari ketakutan ke rumah adiknya si Tengah yang terbuat dari kayu.
Walaupun pintu telah dikunci, serigala langsung mendobrak rumah kayu itu
hingga hancur. Serigala mendekat ke arah kedua anak babi yang sedang
berpelukan karena ketakutan. Keduanya langsung lari dengan sekuat tenaga
menuju rumah si bungsu. "Cepat kunci pintunya!, nanti kita dimakan", kata si
sulung. Si bungsu dengan tenang mengunci pintu. "Tak usah khawatir,
rumahku tidak akan goyah", kata si bungsu sambil tertawa. Ketika serigal
sampai, ia langsung menendang, mendobrak berkali-kali tetapi malah si
serigala yang badannya kesakitan. Serigala akhirnya menyerah dan kemudian
langsung pulang. Sejak saat itu, ketiga anak babi ini hidup bersama, dan sang
serigala tidak pernah datang lagi.
Suatu hari, ketiga anak babi pergi ke bukit untuk memetik apel. Tiba-tiba
Serigala itu muncul disana. Anak-anak babi langsung naik ke pohon
menyelamatkan diri. Serigala yang tidak dapat memanjat pohon menunggu di
bawah pohon tersebut. Si bungsu berpikir, lalu ia berteriak,"Serigala,
kaupasti lapar. Apakah kau mau apel ?", si bungsu segera melempar sebuah
apel. Serigala yang sudah kelaparan langsung mengejar apel yang
menggelinding. "Sekarang ayo kita lari!". Akhirnya mereka semua selamat.
Beberapa hari kemudian, si serigala datang ke rumah si bungsu dengan
membawa tangga yang panjang. Serigala memanjat ke cerobong asap. Si
bungsu yang melihat hal itu berteriak, "Cepat nyalakan api di tungku
pemanas!". Si sulung menyalakan api, si bungsu membawa kuali yang berisi
air panas. Serigala yang ada di cerobong asap, pantatnya kepanasan tak
tertahankan. Malang bagi si serigala, ketika ia ingin melarikan diri, ia
terpeleset dan jatuh tepat ke dalam air yang mendidih. "Waaa…", serigala
cepat-cepat lari. Karena seluruh badannya luka, maka ia menjadi serigala
yang telanjang.
Sejak saat itu, ketiga anak-anak babi menjalani hidup dengan baik, dengan
mengelola lading-ladang mereka. Si sulung dan si tengah sekarang menjadi
rajin bekerja seperti si bungsu. Ibu babi merasa bahagia melihat anakanaknya
hidup
dengan
rukun
dan
damai.
TAMAT


Pesan Moral : Jika kita bersatu, maka kita akan terhindar dari perpecahan.



Cari Peluang bisnis online tanpa modal, peluang bisnis online gratis, peluang usaha dengan modal kecil, bermodal akses internet dan laptop, kumpulan peluang bisnis online klik disini

 
Atas